Citibank… Penagihan yang salah alamat dan menjengkelkan…

Posted by admin on 26th Nopember , 2009

Dah tiga hari ini gue dapet gangguan dari pihak penagihan kartu kredit Citibank…
Karena dah memuncak kesabaran gue, akhirnya gue tulis di surat pembaca, cuma sampai saat ini belum di terbitkan di www.kompas.com karena masih di verifikasi ma redaksinya.

Gue tulis di sini aja deh keluh kesah gue yang gue tulis ke Kompas…

====================================================================

Pada hari Senin tanggal 23 November 2009 kantor saya dihubungi oleh seseorang bernama Tiara mengaku dari Citibank. Dia menyampaikan kalau saya masih mempunyai tunggakan kartu kredit Citibank sebesar Rp. 35.000.000,- lebih. Saya tentu saja kaget karena tagihan terakhir saya yang dikirim oleh pihak Citibank via email saya hanya sebesar Rp. 2.029.000,- dan baru jatuh tempo tanggal 7 Desember 2009. Namun pihak penagih tidak mau peduli, bahkan pada hari Rabu 25 November 2009, saya dihubungi lagi dan mereka ternyata sudah menghubungi kantor pusat saya di Bandung dan mengklaim kalo data-data saya cocok dengan data mereka. Dan mereka tetap meminta saya membayar tagihan sebesar Rp. 35 juta tersebut, saya tetap berkeberatan karena cukup banyak ketidaksamaan data. Dikatakan bahwa kartu tersebut adalah Visa Cash Back dan telah menunggak semenjak tahun 2007. Sementara kartu Citibank yang saya punya adalah Citibank Visa Telkomsel dan baru saya pegang semenjak tahun 2008 dengan limit hanya sebesar Rp. 10jt itupun baru 2 bulan dinaikkan oleh pihak Citibank yang sebelumnya Rp. 7jt.
Kemudian ada seorang laki-laki yang menghubungi saya juga mengaku dari pihak Citibank (sayang saya lupa menanyakan namanya siapa) bahkan berkata-kata kasar dan mengancam. Ada kata-katanya seperti ini “Punya hutang aja belagu”, “Jadi lu mau gimana, gue bisa kirim orang sekarang juga, lu mau ini jadi masalah pribadi?”.

Saya tidak mau terpancing emosi sehingga telpon saya tutup.

Dari Pria itu juga saya dapat nomor kartu yang bermasalah itu yaitu 4541-7910-4088-0157 yang kebetulan bernama mirip seperti nama saya Rustam Effendi (nama saya Rustam Effendy), dia bekerja di PT Ganesha (saya di Ganesha Operation).
Tapi selebihnya banyak ketidak cocokan.
Nomor kartu jelas-jelas berbeda (nomor kartu Citibank Visa Telkomsel saya 4541-79107098-xxxx), tanggal lahir juga berbeda, dan nama ibu kandung juga berbeda.
Semua ini sudah sangat mengganggu saya.
Hampir setiap hari telpon kantor berdering, mengganggu aktifitas saya. Bahkan mereka juga sudah menghubungi kantor pusat saya, ini sudah mencemarkan nama baik saya.
Saya coba hubungi ke Call Center resmi Citibank (69999 dari ponsel) juga tidak ada solusi berarti, saya bahkan disuruh untuk menghubungi bagian pengaduan di nomor 021-7519200.
Sudah banyak waktu saya terbuang untuk masalah ini, cukup banyak pulsa saya terbuang untuk interlokal Denpasar-Jakarta padahal semestinya pihak Citibank yang menyelesaikan masalah internalnya sendiri.

Jadi mohon kepada pihak Citibank maupun pihak penagihan, tolong anda kros cek terlebih dulu sebelum mengganggu aktifitas oarang lain. Dan mohon agar menertibkan karyawannya yang bermasalah, yang berkata-kata kasar bahkan mengancam.
Segera diselesaikan masalah internal ini dan jangan mengganggu nasabah lagi.
Dan mohon saya di hubungi untuk mengklarifikasi masalah ini lebih jauh. Saya bersedia menempuh jalur hukum dan akan saya tempuh jika memang tidak ada niat Citibank untuk menyelesaikan masalah ini secara internal dan terus mengganggu saya.

My wishes….

Posted by admin on 12th Oktober , 2009

Hari ini kesehatan gue nge-drop lagi..
Sebenernya udah kerasa mulai sabtu kemaren, cuma gue pikir gak serius, ternyata di luar dugaan.
Seharusnya malam ini gue berangkat ke Mataram, ada pembukaan Cabang baru di sana dan gue di minta bantu. Tapi kondisi tidak memungkinkan dan Alhamdulillah boss ngerti… (tumben…)

Eniwei, banyak yang gue pelajari beberapa hari terakhir ini, dan makin bulat tekad gue untuk mundur dari posisi gue sekarang. Gue emang punya hutang (dan lumayan banyak) ke kantor, gue pinjem saat gue mau merit kemaren, tapi kalo gak ada aral melintang, Insya Allah, semua beres Februari tahun depan (hhmmm… masih lama banget ya…)
Habis itu gue mulai bisa nabung lagi, mulai bisa ngirim lagi ke Nyokap gua (maaf ma, dah lama saya gak bisa bantu mama…), bisa ngatur strategi apa yang mau gue lakuin ke depan.
Gue juga mulai berfikir tentang apa yang selama ini jadi desakan nyokap gue.

Mas mana…?
Mas kapan…?
Mas kenalin dong ke mama…?

Gue sebenernya gak terlalu pengen mikirin itu, gue pengen punya pegangan lagi (dan kali ini harus bener-bener kokoh bisa gue pegang) tapi gue juga sadar kalo itu gak gampang.
Sesuatu yang indah sudah gue lewatkan, pada saat gue sadar, semua sudah terlambat, dan gue berusaha untuk menerima itu dan menghargai keputusannya.

Kembali ke masalah gue di kantor…
Semua sudah makin tidak nyaman buat gue.
Bukan GO-nya, bukan Bali-nya, bukan rekan-rekan kerja-nya.
Gue seneng kerja di sini, gue seneng ma tempat ini, gue seneng ma temen-temen gue di sini.
Tapi kalo sesuatu itu sudah gak lagi bisa gue nikmatin (posisi gue sekarang), gue fikir sudah waktunya untuk mundur.
Gue kangen ma masa-masa di mana gue bisa dateng bahkan 15 menit sebelum gue ngajar dan pulang 15 menit setelah gue ngajar. Begitu semua selesai gue bisa langsung istirahat. Sementara sekarang, jam kerja gue dah hampir 24 jam.

Gue juga udah memikirkan semuanya, gue bisa hidup koq dengan kondisi hanya sebagai pengajar GO aja dan bukan sebagai Kepala Bagian Akademik lagi. Dan gue yakin gue bisa nemuin orang yang mau ngedampingin gue meskipun dia harus hidup dengan ekstra sederhana.

Menikah, punya istri yang sayang dan bersedia selalu ada di samping gue dalam kondisi apapun, punya anak-anak yang sehat dan berbakti, bisa bikin ortu gue senyum lagi, itu semua sudah cukup buat gue…..

Kabulkan ya ALLAH….

Amiiin….

Reportase Pulang Lebaran September 2009

Posted by admin on 12th Oktober , 2009

Dah terlambat sebenernya tulisan ini, tapi gue pikir mending tetep gue tulis lah, entah ada yang baca atau nggak.

Lebaran ke tiga gue sempetin mampir ke rumah mantan mertua gue.
Semua keluarga sebenernya dah ngelarang gue pergi ke sana, mereka masih sangat sakit hati sama kejadian kemaren.
Tapi gue pikir, gue tadak bermasalah sama mereka, 9 tahun gue kenal mereka tidak sedikitpun gue dapat perlakuan tidak baik dari mereka.
Gue cuma pengen nunjukkin ke mereka kalo gue masih nganggap mereka orang tua gue, sedikitpun gue tidak menyalahkan mereka atas apa yang terjadi pada gue.

Di sana gue disambut cukup hangat, gue seneng ngobrol ma mereka, ada di tengah-tengah mereka. Gue pengen nunjukkin kalo gue dah bangkit seratus persen, gak ada lagi kemarahan, kebencian, kekecewaan, dan lain-lain.
Dan syukur mereka sepertinya bisa ngeliat itu.

Sekitar 1,5 jam gue ngobrol ma mereka, baru aja gue bilang mau pamit, ada suara mobil dateng.
Mantan istri gue dateng.

“Rustam yang sabar ya liat kondisi ay seperti itu….” kata mantan ibu mertua gue..

Gak lama dia datang

Hamil cukup besar (mungkin 5-6 bulanan) dan di dampingi ma cowonya (mungkin sekarang dah jadi suaminya). Mereka keliatan grogi (gak tau kalo gue, kayanya sih gak grogi), tapi gue salamin mereka berdua, berlebaran.

Obrolan berlanjut, mereka masuk ke dalam rumah, gue lanjut ngobrol di teras depan ma kedua mantan mertua gue.
15 menit kemudian gue pamit dan gue masuk lagi ke dalam, nyalamin mereka.
Gatel juga ni mulut pengen ngomong… “wuih… cepet bener, kapan di tanemnya nih, perasaan baru Juni akhir resmi cerai…”
Hehehe… tapi gue gak mau ngerusak suasana, lagi pula semenjak gue talak dia sewaktu gue masih satu kos ma dia, itu semua sudah terserah dia mau ngelakuin apapun.
So, kalo dia hamil lagi untuk yang kedua kalinya, itupun terserah dia.

Terus gue balik, baca sms yang tadi sengaja gak gue baca dulu karena gak enak ma mantan mertua gue, ngobrol sambil baca sms….
Selesai baca….

Kaki gue lemes banget….   :-(

Green Day: Wake Me Up When September End….

Posted by admin on 28th September , 2009

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father’s come to pass
seven years has gone so fast
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

summer has come and passed
the innocent can never last
wake me up when September ends

ring out the bells again
like we did when spring began
wake me up when September ends

here comes the rain again
falling from the stars
drenched in my pain again
becoming who we are

as my memory rests
but never forgets what I lost
wake me up when September ends

Summer has come and passed
The innocent can never last
wake me up when September ends

like my father’s come to pass
twenty years has gone so fast
wake me up when September ends
wake me up when September ends
wake me up when September ends

=========================

Gak ngerti-ngerti banget sih ma liriknya tapi, sedikit banyak seperti yang gue rasa di akhir September ini…

Teguran??

Posted by admin on 7th September , 2009

Minggu, 06 September 2009, beberapa menit setelah waktu berbuka untuk Denpasar dan sekitarnya.

Maunya sih buka puasa bersama ma temen-temen, lokasi di Warung Ateak K-Q Lima di daerah Renon-Hayam Wuruk. Cuma old habit bikin gue sedikit dapet musibah.
Gue serempetan ma pengendara motor lain, lumayan panjang urusan, dan lumayan banyak gue ngeluarin dana buat pengobatannya.
Meleng ke arah kana, begitu liat ke depan, cuma berjarak 3 meter di depan gue ada motor yang  tepat di tengah jalan, kecepatan rendah dan persis di depan gue.
Sekuat apapun gue ngerem, tetep kesenggol tuh motor. Pasangan suami istri yang udah agak berumur, yang saat itu sebenernya justru sedang jalan menuju tempat pengobatan alternatif.
Gue sempet shok ngliat itu orang gak bisa bangun cepet, kudu di papah, gak bisa duduk & membungkuk. Gue pikir itu semua karena kesalahan gue. Ternyata dia memang ada sakit pinggang yang bikin dia gak bisa ngelakuin itu semua. Sedikit lega perasaan gue.
Langsung meluncur ke RS Sanglah Denpasar, temen yang nunggu gue untuk buka puasa bareng juga langsung nyusul ke RS begitu tau beritanya.
Sebenernya kecepatan gue saat itu gak lebih dari 60 kpj, dan kondisi pengendara yang gue tabrak memang gak memungkinkan dia untuk bisa lebih sigap refleknya. Jadi kejadian deh semua musibah tadi.
Tapi apapun alasannya emang gue yang salah, gue yang teledor dan tidak awas.
So semua gue anggap sebagai musibah dan teguran agar kedepannya gue lebih santun lagi dalam berkendara.

Semoga dapat gue ambil hikmahnya…..

No More “Mr. Nice Guy”

Posted by admin on 8th Agustus , 2009

Minggu ini minggu ke lima gue bikin jadwal.
Tahun ajaran yang bener-bener gak seperti yang gue bayangin.

Memang sih jumlah siswa kita di sini meningkat tajam, bahkan katanya terbanyak ke dua setelah pusat/Bandung. Gue nyadar kalo kerjaan gue bakal meningkat, tanggung jawab meningkat, kesibukkan meningkat. Untung tahun ini gue dapet staf, dan dia sangat membantu gue. Sebagian besar pekerjaan keadministrasian gue di handel ma dia.

Tapi empat minggu terakhir ini, cobaan datang bertubi-tubi, gue kerja hampir 24 jam. Tiap saat ada saja masalah muncul. Pembatalan jadwal yang terjadi selama tiga minggu terakhir bahkan sudah melebihi pembatalan jadwal yang terjadi selama dua tahun gue di sini dan menjadi Kepala Bagian Akademik.

Yup, 29 cancel jadwal di minggu ke dua, 18 cancel jadwal di minggu ke tiga dan 18 cancel jadwal di minggu ke empat. Ada yang sakit (untuk yang satu ini gue gak nyalahin mereka) tapi sebagian besar malah muncul dari ketidak disiplinan pengajar yang menganggap remeh kegiatan yang gue tanganin.
Awal tahun ajaran baru ini jugalah gue menegur atau kalo boleh lebih kasar lagi “menyemprot” lebih banyak pengajar dari yang pernah gue lakuin di dua tahun sebelumnya.

Tapi gue gak tahu, apa mereka anggap gue cuma main-main saat gue menegur mereka, atau memang mereka gak merasa bersalah sedikitpun, atau memang memang itu sudah menjadi tabiat mereka, tapi kesalahan yang sama terjadi berulang-ulang dan dilakukan oleh banyak pihak.

“Di kasih hati minta kepala” kayanya itu permisalan yang tepat buat mereka.
Oke, gak perlu lagi ada “Mr. Nice Guy”, sudah waktunya gue nunjukin ke mereka “who’s the boss here”, ikuti aturan atau gak usah lagi menjadi bawahan gue, silahkan pergi agar gue gak perlu lagi “nyemprot” dan menegur. Banyak hal yang akan gue lakukan atau pimpinan gue mau lakukan selalu gue pikirin baik dan buruknya buat mereka, gue gak mau pendapatan mereka berkurang, gue gak mau mereka merasa gak nyaman, gue gak mau mereka merasa gue “bossy”, tapi gak sedikitpun mereka nyadar itu semua.

Gue sudah menyiapkan beberapa peraturan, dan itu harus mereka patuhi suka atau nggak.

So, no more Mr. Nice Guy…………

Tahun terakhir…??

Posted by admin on 26th Juli , 2009

Tahun ajaran baru ini gue sambut dengan sedikit rasa gamang, banyak berita beredar dan sebagian besar kurang menyenangkan untuk gue dengar.

Dan ternyata sebagian besar akhirnya terlaksana.
Berbagai macam cara gue tempuh untuk memberikan pandangan kepada pimpinan gue di sini, gak ada yang mempan. Belakangan gue malah merasa dia sedikit ngerasa terancam ma gue. Mungkin dia takut gue menggalang kekuatan untuk melengserkan dia. Sebuah pemikiran yang tidak berdasar….

Tapi gue juga mulai sedikit membatasi bicara dengan dia, gue gak mau dia berfikir kalo gue melakukan ini semua untuk kepentingan gue sendiri.
Gue cuma ngliat banyak gejolak dibawah, banyak ketidakadilan, banyak orang yang lebih pantas tapi tidak di lihat sama sekali. Dan pada akhirnya gue dan beberapa orang lah yang akan menjali semua itu bukan dia, dia cuma memberikan perintah aja. Gue yang akan bekerja sama, jadi wajar kalo gue pengen sedikit dimintai pendapat akan pihak-pihak yang sekiranya bisa gue ajak bekerja sama.

Tapi pada akhirnya, tetap dialah bos-nya, titik…..

Satu bulan berjalan, semua gak menjadi lebih baik….

Tapi yang terpenting, gue denger dari mulutnya sendir, entah itu dia sadari atau nggak, masa depan gue di sini udah lebih jelas.

Dia memang masih butuh gue tahun ini, tapi tidak untuk tahun depan, silahkan gue memilih jalan gue sendiri…

Jujur gue masih seneng di sini, mungkin gue akan tetap di sini sampai ortu gue pengen gue balik, dan itu udah pernah gue tanya ke mereka. Tahu jawaban mereka?????
“Gak papa mas, di sana aja lah, atau kalo memang mau pindah dari Bali, mending ke tempat lain aja, ke Bandung atau ke mana aja tapi gak usah lah ke Depok atau Jakarta dulu”.

Thanks mom, panggil saya, maka saya akan pulang…

Infeksi Usus Besar……

Posted by admin on 14th Mei , 2009

Dah hampir 2 bulan ini gue sakit….
Mulai dari sebelum libur Nyepi kemaren. Waktu nyepi gue lupain sejenak karena gue di ajak maen ke Lombok. Sebuah tawaran yang gak mungkin bisa gue tolak.

Pulang dari Lombok perasaan gue gak membaik, malah makin parah. Mungkin karena selama di sana apa aja gue makan. Tau sendiri, makanan Lombok lumayan mengundang mulut berdesar dan keluar keringat karena rasa yang pedas. Ditambah lagi, ntah kenapa gue terus keilangan selera makan. Makanan gak ada yang bisa bikin selera gue muncul. Jadilah makan gue jadi sama sekali gak teratur.

Akhirnya gue tepar juga. Ullu hati gue sakit banget. Kaya di tusuk-tusuk, jalan gak kuat tegap, dan kalo naek motor lewat jalan yang rusak, menderita banget…. :-(
Gak tahan gue akhirnya ke RS. Saat itu sebenernya gue disaranin untuk rawat inap. Cuma gue kepikir kerjaan, gak mungkin gue tinggal. Akhirnya gue berobat jalan, cuma di suntik + obat-obatan. Katanya asam lambung gue meningkat parah.

Seminggu gue minum obat-obat itu, perasaan gue gak makin baik. Akhirnya gue cari “second opinion”, gue datengin Dokter prakter spesialis penyakit dalam. Awalnya dia curiga Liver gue bermasalah. Sedikit “flash back” kebelakang, sekitar akhir tahun 2005 sampai awal tahun 2006 liver gue sempet bermasalah.
Oke, kita balik ke saat sekarang. Itu dokter terus minta gue tes darah, untuk ngeliat fungsi hati gue, dengan juga menyertakan obat maag.
Hasil tes…. hati gue normal-normal aja, gak ada masalah.
Cuma kenapa gue tetep sakit ya….?

Dua minggu gue coba bertahan dengan anggapan kalo memang cuma maag gue aja yang bermasalah. Makan gue buat teratur, kerjaan gue kurangin (dan kebetulan kerjaan gue emang lagi berkurang bobotnya). Tapi tetep aja, perut gue tetep sakit. Kalo lagi parah, bahkan jalan aja gue sambil meringis.

Gue belum cerita semua ini ke orang tua gue di Depok, gue gak mau mereka khawatir. Jadi tiap di tanya gue cuma bilang kalo gue baik-baik aja.

Senin kemaren gue udah gak tahan, gue balik lagi ke Dokter. Dia periksa ulang, dan dugaannya adalah “INFEKSI USUS BESAR”. Gue diminta Ronsen + USG (wuih…. kaya ibu-ibu hamil aja ya…)
Barusan gue dari Lab, gue udah Ronsen + USG, hasilnya baru keluar besok pagi.

Doain gak ada masalah yang serius ya pren. Sampai saat ini rasa sakit di perut gue gak sedikitpun berkurang. Mudah-mudahan dengan hasil Ronsen + USG, semua jelas, sehingga treatmen yang akan di kasi ke gue juga lebih tepat sasaran.

Gila, 2 bulan sakit berlarut-larut…… Cape banget gue….

Friends… ??

Posted by admin on 4th Mei , 2009

Ternyata temen tetep harus di pilah-pilih ya…

Gue pikir, selama ini gue dah cukup punya temen yang bantu gue, nemenin gue, nyemangatin gue, pokoknya bisa bikin gue ngelupain semua masalah gue.
Tapi ternyata ada temen yang gak bisa gue percaya untuk nyimpen rahasia gue. Dengan mudahnya dia emberin kemana-mana. Mungkin orang di sekitar gue dah mulai curiga, gue tahu itu. Tapi apa lantas itu jadi alasan untuk kemudian menceritakan kemana-mana?
Gue sadar betul, pada akhirnya gue harus ngadepin kenyataan bahwa semua orang akan tahu. Tapi biar itu datang dari mulut gue sendiri. Gue yang akan cerita, dan gue yang akan menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka. Kalo saat ini mereka gak berani nanya ke gue, dan malah nanya ke orang yang diliatnya deket ma gue, itu udah jadi resiko jadi temen.

Tapi tetep BUKAN HAK LO UNTUK NYERITAIN APAPUN KE MEREKA.

Satu lagi, entah temen-temen gue (atau orang yang ngaku sebagai temen gue) ini percaya atau nggak, gue udah ngelewatin semua masa di mana gue keilangan pegangan. Kalo gue bilang sekarang gue udah kembali normal, udah bisa bangkit, udah bisa ngelupain semua, ngikhlasin semua, udah siap ngejalanin hidup lagi, tapi tetep dia gak percaya, itu bukan urusan gue. Cuma jangan pernah sekalipun lo nampilin rasa simpati, rasa kasihan, atau candaan-candaan yang memperlihatkan gue sebagai orang yang patut dikasihani. Apa lagi terus berusaha membuat keputusan untuk masa depan gue, seakan-akan lo adalah orang yang paling tahu tentang gue, bahkan di banding gue sendiri. Ini hidup gue, gue yang ngejalanin. Kalo elo gak bisa ber-empati ke gue, JANGAN SEKALI-SEKALI SOK TAHU, gue gak akan bisa maafin itu semua.

Dan kalo sampai saat ini lo tetep berfikir gue perlu lo kasihani, gue gak butuh lo sebagai temen gue.

Sory guys, gue sebenernya gak tahu tulisan ini gue tujukan buat siapa. Cuma hati kecil gue bilang, ada yang sok tahu tentang diri gue dan masalah gue.

Mudah-mudahan gue salah……..

Pesan dari seorang teman….

Posted by admin on 19th April , 2009

Ini gue kutip dari tulisan temen gue, dalem banget…..
========================================

Jikalah derita akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dijalani dengan sepedih rasa, Sedang ketegaran akan lebih indah dikenang nanti.

Jikalah kesedihan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa tidak dinikmati saja, Sedang ratap tangis tak akan mengubah apa-apa.

Jikalah luka dan kecewa akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dibiarkan meracuni jiwa, Sedang ketabahan dan kesabaran adalah lebih utama.

Jikalah kebencian dan kemarahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti diumbar sepuas jiwa, Sedang menahan diri adalah lebih berpahala.

Jikalah kesalahan akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti tenggelam di dalamnya, Sedang taubat itu lebih utama.

Jikalah harta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti ingin dikukuhi sendiri, Sedang kedermawanan justru akan melipat gandakannya.

Jikalah kepandaian akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti membusung dada dan membuat kerusakan di dunia, Sedang dengannya manusia diminta memimpin dunia agar sejahtera.

Jikalah cinta akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti ingin memiliki dan selalu bersama, Sedang memberi akan lebih banyak menuai arti.

Jikalah bahagia akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti dirasakan sendiri, Sedang berbagi akan membuatnya lebih bermakna

Jikalah hidup akan menjadi masa lalu pada akhirnya, Maka mengapa mesti diisi dengan kesia-siaan belaka, Sedang begitu banyak kebaikan bisa dicipta.

Suatu hari nanti,
Saat semua telah menjadi masa lalu
Aku ingin ada di antara mereka
Yang bertelekan di atas permadani
Sambil bercengkerama dengan tetangganya
Saling bercerita tentang apa yang telah dilakukannya di masa lalu Hingga mereka mendapat anugerah itu.

Duhai kawan, dulu aku miskin dan menderita, namun aku tetap berusaha senantiasa bersyukur dan bersabar. Dan ternyata, derita itu hanya sekejap saja dan cuma seujung kuku, di banding segala nikmat yang kuterima di sini

Wahai kawan, dulu aku membuat dosa sepenuh bumi, namun aku bertobat dan tak mengulang lagi hingga maut menghampiri. Dan ternyata, ampunan-Nya seluas alam raya, hingga sekarang aku berbahagia

Suatu hari nanti
Ketika semua telah menjadi masa lalu
Aku tak ingin ada di antara mereka
Yang berpeluh darah dan berkeluh kesah:
Andai di masa lalu mereka adalah tanah saja.

Duhai! harta yang dahulu kukumpulkan sepenuh raga, ilmu yang kukejar setinggi langit, kini hanyalah masa lalu yang tak berarti. Mengapa dulu tak kubuat menjadi amal jariah yang dapat menyelamatkanku kini?

Duhai! nestapa, kecewa, dan luka yang dulu kujalani, ternyata hanya sekejap saja dibanding sengsara yang harus kuarungi kini. Mengapa aku dulu tak sanggup bersabar meski hanya sedikit jua?